PENA24JAM.COM, SIMALUNGUN – Buang badan dilakukan Koordinator Wilayah Pendidikan, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Sumut, Rommel Hutabarat.
Saat ditemui di kantornya, Rabu (18/3/2025) sekitar jam 12.08 WIB, mengaku kurang tau siapa si Bangun yang memerintah bos buku Penerbit Mas Media, Dedy mempasok buku dan memaksa para kepala sekolah membeli.

“Gini sajalah itu pak. Dari pada saya dikira pembersihan diri dan mengancam. Langsung saja ditanyakan ke kepala sekolah, supaya saya panggilkan. Kalau soal siapa si Bangun, saya kurang tau,” elaknya.
Padahal, para Kepala SD Negeri yang sedang mendengar pembicaraan Korwil Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat dengan bos buku Penerbit Mas Media, Dedy via handphone milik seorang sales, bermarga Purba.
“Kami (Kepala SD Negeri) dengar semua. Karena dispeakerkan dan pas kami rapat K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah),” ungkap seorang Kepala SD Negeri, Rosdiana Sitompul yang tak lama datang ke Kantor Korwil Pendidikan Hatonduhan saat wartawan melakukan wawancara.
Ironisnya lagi, Korwil Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat juga mengaku saat itu tidak ada menyampaikan agar menggunakan uang pribadi para Kepala SD Negeri membeli buku yang dipasok Penerbit Mas Media bila tidak bisa merubah RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah).
“Ibu jangan bilang seperti itu. Saya tidak ada menyampaikan begitu,” ucap Rommel dengan raut wajah tampak marah campur emosi seraya menggerakan badannya yang semula bersandar di bangku jabatannya.
Selain itu, bos buku Penerbit Mas Media, Dedy dituding oleh, Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat memerintah agar memfoto para Kepala SD Negeri yang menolak membeli buku.
“Itu dibilangnya. Terus saya katakan, inikan sudah ada kepala sekolah. Ngapain difoto-foto. Saya tidak berhak begitu. Bukan urusan saya. Yang jelas, kalau ada niat, maksud dan tujuan bapak (pasok buku), silahkan dan saya ladeni,” terang Rommel mengulang perkataannya kala itu kepada ketiga sales buku Penerbit Mas Media bermarga Haloho, Purba dan Saragih.
Kembali disinggung mengenai pembicaraan dengan bos buku Penerbit Mas Media yang mengatakan perintah si Bangun. Rommel kembali berkelit dan sempat lama menjawab. “Tolong foto pak kepala sekolah yang menolak. Terus saya jawab, mereka sudah di sini, kepala sekolah. Ya langsung saja. Gitu,” kata Rommel.
Diberitakan sebelumnya, para Kepala Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, Sumut, dipaksa membeli buku pelajaran Penerbit Mas Media untuk murid ternyata atas perintah, Bangun.
“Bos (pimpinan) dari tiga sales buku Penerbit Mas Media itu yang ngaku ke korwil, ini perintah Pak Bangun dan dibilang, siapa kepala sekolah yang tidak mau supaya difoto wajahnya,” ungkap seorang Kepala SD Negeri di Hatonduhan via seluler, Senin (17/2/2025) sekitar jam 21.25 WIB.
Bos dari tiga sales buku Penerbit Mas Media tersebut mengaku kepada Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat diperintah Pak Bangun via handphone.
“Melalui handphone. Karena, ditelepon salesnya bermarga Purba, bos Penerbit Mas Media itu (diperintah Pak Bangun) di depan kami,” terang kepsek seraya menyebut nama bos dari ketiga sales buku Penerbit Mas Media, yakni Dedi Manik.
Sales bermarga Purba menelepon bos buku penerbit Mas Media. Saat, antara sejumlah Kepala SD Negeri yang merasa terancam dan dipaksa membeli, berdebat dengan Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Purba, Rommel Purba.
“Salesnya datang, seminggu lalu. Hari Selasa pas kami rapat. Sebelumnya, korwil bilang ada mau datang tamu. Rupanya, ketiga sales itu. Dan, kami maklum kok, namanya cari makan. Cuma, yang kurang pas itu, kami dipaksa membeli, sementara tidak ada ditampung di RKAS. Ini yang buat berdebat sama korwil,” paparnya.
Selain itu, Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat memaksa agar para Kepala Sekolah Dasar Negeri membatalkan pemesanan buku penerbit lain.
“Kami bilang, gak bisa pak membatalkan sepihak. Kemudian kami tawarkan agar di perubahan RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah) atau dikasih kesempatan satu hari supaya disusun, bila harus begitu,” terang kepsek.
Tapi, Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat justru mengharuskan para Kepala Sekolah Dasar Negeri membeli hari itu juga.
“Lalu, kami bilang lagi tidak bisa dan dari mana mengelola datanya karena operator tidak ikut rapat. Kemudian, korwil bilang, oke kalau ibu tidak mau, terima resikonya nanti,” kata kepsek seraya menirukan ancaman Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat.
Tak sampai di situ. Setelah di halaman Kantor Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat. Bos buku Penerbit Mas Media, Dedi Manik kembali menelepon via handphone milik salesnya bermarga Purba.
“Terus dibilang, ibu gak bisa koordinasikan semua buku itu. Kemudian kami jawab, bukan tidak bisa pak. Bisa, tapi tidak hari ini. Lalu, dibilang lagi begini, oke kalau tidak mau, terima resikonya nanti,” jelas kepsek menirukan perkataan bos buku Penerbit Mas Media yang dianggap sebagai ancaman.
Sementara, Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Hatonduhan, Rommel Hutabarat ketika dikonfirmasi melalui seluler, Senin (17/3/2025) sekitar jam 21.36 WIB, sempat terhubung. Tak lama, sambungan telepon terputus dan melakukan pemblokiran. (di)
Discussion about this post