PENA24JAM.COM, SIMALUNGUN – Sejumlah dugaan pungutan liar yang terjadi terhadap 39 Kepala SD Negeri tidak diakui Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumut, Berto Saragi.
“Dang adong i. Boi isukkun sude kepala sikkolah (Tidak ada itu. Boleh ditanya semua kepala sekolah),” elak Berto yang ngantor di Cafe Lala saat ditemui, Senin (17/3/2025) sekitar jam 11.30 WIB.
Namun, Berto Saragih mengungkapkan dirinya bersama seorang Kepala Sekolah Dasar Negeri, SP telah dipanggil Kepala Dinas Pendidikan Simalungun, Sudiahman Saragih.
“Dipertemukan kami sama pak kadis,” ungkap Berto seraya mengaku menjadi Korwil Pendidikan Kecamatan Tanah Jawa sejak tahun 2017.
Tapi, saat dipanggil. Kepala Dinas Pendidikan Simalungun, Sudiahman Saragih bukan untuk mengusut dugaan sejumlah kutipan belum lama ini terkuak ke permukaan.
“Tidak ada pala. Cuma dibilang bapak itu. Saya tidak mengungkit masalah kalian. Cuma ingin mendamaikan,” terang Berto menirukan ucapan Kepala Dinas Pendidikan Simalungun.
Kemudian, lanjut Berto menirukan perkataan Kepala Dinas Pendidikan Simalungun, kalau pun selama ini ada kutipan, jangan ada lagi. “Iya pak, memang tidak ada,” ucap Berto mengulang jawabannya yang tidak mengaku adanya kutipan kepada Kepala Dinas Pendidikan Simalungun.
Selain itu, Berto siap diperiksa Aparat Penegak Hukum (APH) terkait dugaan sejumlah kutipan terhadap 39 Kepala SD Negeri se-Kecamatan Tanah Jawa. “Karena memang tidak ada. Bisa ditanya kepala-kepala sekolah,” katanya.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Simalungun, Sudiahman Saragih disebut sudah memanggil Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Tanah Jawa, Berto Saragi.
Diberitakan sebelumnya, dugaan sejumlah pungutan liar, antara lain untuk piknik Rp100 ribu/murid untuk iklan pada salah satu media, rekonsiliasi Rp100 ribu/murid, administrasi guru sebesar Rp300 ribu untuk 6 guru, Rp720 ribu untuk spanduk sebanyak 3 buah, dan lain-lain sebesar Rp2.408.000.
Selain itu, kutipan untuk try out 1 sebesar Rp1.334.000, majalah sebesar Rp105 ribu, R sebanyak Rp1.008.000, ser Rp250 ribu, papan BOS Rp1.695.000, calistung Rp3.120.000, belajar menulis sebesar Rp1.2 juta.
Selanjutnya, untuk spanduk Idul Fitri sebesar Rp120 ribu, workshop Rp1.8 juta, rekonsiliasi dan siss yang lalu sebesat Rp1.860.000, saat kunjungan anggota dewan Rp1.008.000.
“Kalau The One itu ada tertera di catatan, maksudnya anggota dewan. Kata sandinya saja tu The One. Karena, dikutip dari kepala sekolah ketika kunjungan dewan dengan alasan buat makan siang sama,” beber kepsek. (di)

Discussion about this post